Selasa, 28 Juni 2016

Untunglah, Aku Gagal

What and if are just two ordinary words, but when they come together in a sentence, it could be one of the worst things in life. Karena ketika berandai-andai, kita lalu menjadi sedih karena pengandaian ndak akan merubah apapun yang terjadi hari ini.

Well, that's what I believe for a very long time. Tapi, di post kali ini, aku justru kepingin berandai-andai. Bukan sebagai bentuk penyesalan, namun karena aku ngerasa sangat bersyukur. Particularly, grateful for my failures. Karena bila sebelumnya ndak gagal, bisa jadi aku malah ndak akan seberuntung ini :)


Kegagalan #1

Tahun 1999. Usiaku 5 tahun kala itu. Baru aja pindah dari Surabaya ke pulau yang jaraknya cuma se-perngesotan dari negeri singa, Pulau Batam. Karena udah menempuh pendidikan TK di Surabaya, alm. Ibu pun ndak kepingin aku mengulang jenjang yang sama.

Tapi mungkin, karena ngelihat aku terlalu banyak godain anak tetangga bermain di rumah, akhirnya Ibu memutuskan ingin segera memasukkanku ke SD. Sayangnya, ndak ada SD Negeri yang mau menerimaku, karena syarat minimal usia untuk mendaftar adalah 7 tahun. Pernah juga Ibu membawaku ke sebuah SD Swasta (yang harganya masih terjangkau), namun mereka pun hanya bisa mentolerir anak usia 6 tahun.

Iyap, aku gagal masuk SD Negeri dan SD Swasta karena perkara usia.

Ibu pantang menyerah. Beliau lantas nyoba mendaftarkanku ke SD Djuwita International School. Sekolah tersebut ndak mempermasalahkan usia, dengan syarat aku bisa membaca. Untungnya, Ibu yang memang seorang dosen itu cukup galak dalam hal memaksa anaknya belajar hehe. Yang berakibat pada aku udah lancar membaca sejak TK. Dan tadaa, diterimalah aku di SD Djuwita. Yang biaya SPP per bulannya hampir sama seperti SPP kuliahku per semester, dan itu perbandingan antara tahun 90an dengan 2011 loh ya :"))

Namanya juga internesyenel, pelajaran bahasa Inggris dijejalkan dengan paksa sejak kelas 1 SD. Bahkan, kalau ndak salah, sejak kelas 4 SD, pelajaran yang kudapetin itu bilingual. Jadi, aku belajar Matematika sekaligus Mathematics. Ada mata pelajaran IPA, juga Science. Dan beberapa mata pelajaran lain yang kupelajari secara double life. Yap, satu mata pelajaran kupelajari dengan dua kurikulum berbeda. Satu kurikulum Indonesia, satu lagi kurikulum Singapura/Amerika (karena buku pelajarannya didatangkan langsung dari sana).

Zuper zekaleh yak! Kalau diinget-inget sekarang, kok dulu aku sanggup ya (padahal pas ngerjain skripsi dalam bahasa Indonesia aja sambat melulu)? Kok aku bisa lulus SD ya? Walaupun dengan nilai yang memang pas-pasan (dan ndak pernah punya pacar) sih ehehe.

Fast forward to today. Walaupun sekarang English skills-ku juga belum emejing-emejing amat sih, tapi Alhamdulillah cukup mumpuni untuk apply kerja dan beasiswa luar negeri. Beberapa guru di SD Djuwita pun didatangkan langsung dari Amerika, yang membuatku ndak kagok untuk nyepik ngobrol dengan native speakers.

Seandainya dulu aku diterima di SD Negeri dan ndak belajar bahasa Inggris secara intens selama 6 tahun di SD Djuwita, belum tentu akan seperti ini kan? :)


Kegagalan #2

"Maaf, Anda belum berhasil dalam seleksi SNMPTN Jalur Undangan 2011"

Begitu bunyi pengumuman yang kudapat pada seleksi SNMPTN Undangan, 5 tahun lalu. Waktu itu, aku daftar di ITS dan Universitas Brawijaya. Jurusan teknik semua, Teknik Sipil dan Perencanaan Wilayah Kota.

Lucunya, di malam pengumuman itu, aku sama sekali ndak sedih dengan kegagalan ini. Padahal, temen-temenku banyak yang bercucuran air seni mata. Yang ada, aku seolah dapat "bisikan hati" malam itu. Seriously, kalau diinget-inget, aku juga heran dan amazed sendiri. Karena malam itu, aku tiba-tiba aja kembali berhasrat untuk mengejar cita-citaku sejak lama, kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi.

Kegagalan di SNMPTN Undangan bener-bener jadi titik balik dalam hidup. Membuatku kembali merefleksi diri dan berani mengusahakan apa yang memang aku impikan. Dan setelah menikmati suka-duka sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi Unair selama 4 tahun, I could say that enrolling in communication science program is one of the best choice in my life that I would never regret. Agak lebay alay jablay ya kayaknya? But, I really mean it. Siapa aku saat ini (dan bersama siapa aku saat ini eaaa) benar-benar dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman yang kudapatkan di jurusan Ilmu Komunikasi.

Seandainya aja aku ndak gagal di SNMPTN Undangan, belum tentu aku akan mendapatkan yang lebih baik dari apa yang aku dapatkan hari ini kan? :)

(hal ini juga pernah sedikit kubahas di postingan ini)


Kegagalan #3

Peer pressure is real. Apalagi buat ceciwi-ceciwi yang terlibat dalam sebuah persekutuan bernama geng wkwkwk. Salah satunya, saat temen bermain dan belajarku nyoba apply ke DetEksi Jawa Pos, pada Juli 2012. Aku yang saat itu baru sekali membaca halaman DetEksi, ikut-ikutan apply sebagai reporter. Padahal, besoknya aku udah mudik ke Batam selama dua bulan. Sama sekali ndak mikirin gimana kalau nanti dipanggil tes/wawancara (maklum ya sis, waktu itu aku masih anak polos yang bau ketek kencur).

Ndak lama setelah aku tiba di Batam, dari empat orang anggota gengku yang apply, hanya satu yang dapet panggilan. Dan doi memang apply-nya sebagai surveyor. Katanya sih, reporter yang dicari ternyata cowok, makanya ndak ada dari kami yang dipanggil. Ehem yaweslah, waktu itu aku udah ndak mikirin lagi, nganggepnya belum rejeki.

Lalu jeng...jeng...jeng...
Waktu berjalan...
Tibalah kita di bulan September 2012.
Pas aku lagi otw bandara Hang Nadim...
Aku ditelpon sama salah satu crew DetEksi. Dapet panggilan wawancara dan diminta untuk ke kantor dua hari kemudian. Baru deh pas itu kepikiran, kalo misalnya aku ditelpon seminggu atau sehari sebelumya aja, belum tentu aku bisa memenuhi panggilan.

Coincidence? Definitely NO! :)))

Dan tadaa, setelah melewati tahap wawancara dan masa pelatihan selama 1 minggu, diterimalah aku sebagai the new reporter of DetEksi Jawa Pos.

Meski kerja di DetEksi sering bikin bolos kuliah pagi dan mencuri-curi ngerjain naskah saat dosen ngejelasin materi. Meski setiap malam, dinding dan atap pujasera selalu mendengar keluhan dari kami para reporter yang kelelahan. Meski sering banget pulang larut malem, bahkan dini hari. Pernah bekerja di DetEksi bener-bener jadi unforgettable experience. Aku jadi punya temen dari berbagai background, kenal dan ngewawancarai beberapa orang hebat, terbiasa dikejar deadline, tahan banting menghadapi angin malam, dan pastinya kemampuanku menulis saat ini ya berkat ditempa habis-habisan di DetEksi. Bahkan, sewaktu aku keterima di DetEksi, aku lagi dilanda galau hebat yang Alhamdulillah langsung terbabat habis dengan cepat berkat deadline ketat.

Aku jadi sering berandai-andai. Seandainya aku ndak 'gagal' di bulan Juli 2012 dan dipanggil wawancara saat itu juga, belum tentu aku pernah menjadi bagian dari salah satu media anak muda terbesar di Indonesia kan? :)


Kegagalan #4

Di semester-semester akhir kuliah, mimpiku untuk jadi jurnalis dan bekerja di ibukota perlahan pupus. Tapi, sungguh, setiap mendengar ada media yang buka lowongan kerja, masih bergetar hati adek ini bang :')

Akhirnya, aku memutuskan untuk nyoba apply di media-media lokal. Pokoknya, kepingin kerja di Surabaya, tetep di bidang tulis-menulis, tapi dengan jam kerja yang ndak hectic-hectic amat.

Eh kok ya, aku sama sekali ndak dapet panggilan interview atau tes~

Sebulan setelah wisuda, ada temen yang ngabarin ada lowongan kerja sebagai Copywriter di ConcepTalk. Iseng deh kepo-kepoin. Iseng juga ngirim lamaran via email. Dan ternyata iseng-iseng ini berhadiah, aku diterima di ConcepTalk dan mulai kerja per 9 November 2015.

Dengan apa yang aku dapet hari ini, aku ngerasa kalo kerja di ConcepTalk emang pekerjaan yang paling pas memenuhi kebutuhan-kebutuhanku, meski bukan keinginanku. Aku tetep kerja di bidang komunikasi. Tetep nulis. Punya temen-temen kantor yang asik semua. Punya atasan yang baik dan pengertian banget. Aku dibolehin ijin pulang cepet hanya demi les. Baru tiga bulan kerja, dikasih recommendation letter yang isinya zuper positif. Punya temen designer yang baik banget mau ngajarin ilmu per-Photoshop-an dan bantuin bikin poster Hai Kampus. Masih sempet main, leha-leha, dan berkencan. Bahkan, sempet juga pulang ke Batam, walaupun cuma sebentar.

Lagi-lagi, seandainya aku ndak gagal saat apply ke perusahaan-perusahaan lain, apakah aku juga akan dapetin hal-hal yang sesuai dengan kebutuhanku? Belum tentu juga kalo kerja di perusahaan lain (yang lebih gede dan mentereng), aku punya waktu dan energi untuk mengejar beasiswa S2 (dan alhamdulillah berhasil meraihnya) kan? :)


Kegagalan #5

Aku jomblo sejak lahir sampai umur 20 tahun.

Iya. Beneran.

Ndak boong.

Sejak SD hingga SMA, kisah asmaraku hanya berujung jadi the one that got away eaaa~ Dengan pola yang hampir sama pula. Diawali dengan ada cowok yang naksir aku. Tapi, aku ndak (eh tepatnya belom) naksir doi. Eh ternyata, beberapa waktu kemudian, aku naksir doi balik, tapi si doi udah sama yang lain. Aku pun cuma bisa galau, kepoin doi diam-diam, sambil berdoa dengan khusyuk agar doi segera putus dari pacarnya #eh.

Dan sekarang, aku sedang bahagia menjalani hubungan dengan seseorang yang juga jomblo abadi sebelum ketemu aku. Asiknya, karena kita berdua sama-sama ndak pernah pacaran, kita bisa nentuin aturan main perpacaran versi kita sendiri. Tanpa bisa ngebanding-bandingin ke kisah cinta sebelumnya (yaiyalah, sama-sama ndak punya mantan!). Sama-sama bukan tipe yang tiap detik kudu chat-chatan, tapi toh kita saling ngerasa nyaman.

Ndak tahu sih, si mas F ini jodohku atau bukan. Tapi, sampai saat ini, dialah yang selalu aku semogakan eaaa~ Semoga aja hubungan kami diridhoi Tuhan.

Seandainya aja kisah-kisah cintaku terdahulu ndak gagal, belum tentu aku akan dipertemukan dan dipersatukan dengan dia kan? Belum tentu juga akan senyaman dan seserius ini kan? :)

---

Yak. Cukup lima kegagalan aja yang perlu diceritakan. Kalo keterusan, bisa ngalah-ngalahin skripsi. Lagian ini cuma postingan blog, bukan buku. Dan saat ini cuma ada satu buku yang kepingin aku tulis... buku nikah eaaa~

Intinya, pesan moral dari curhatan kali ini adalah jangan sedih berlebihan ketika menghadapi kegagalan. There is always a silver lining after all. Sebagaimana yang pernah aku tulis disini Tuhan selalu punya jawaban terbaik untuk setiap doa dan harapan kita. Dan ketika aku gagal, aku yakin jawabanNya adalah "I have a better plan for you" :)

Jadi,

Selamat gagal!
Selamat menikmati rencana terbaik yang sudah Tuhan sediakan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar