Selasa, 28 Juni 2016

Untunglah, Aku Gagal

What and if are just two ordinary words, but when they come together in a sentence, it could be one of the worst things in life. Karena ketika berandai-andai, kita lalu menjadi sedih karena pengandaian ndak akan merubah apapun yang terjadi hari ini.

Well, that's what I believe for a very long time. Tapi, di post kali ini, aku justru kepingin berandai-andai. Bukan sebagai bentuk penyesalan, namun karena aku ngerasa sangat bersyukur. Particularly, grateful for my failures. Karena bila sebelumnya ndak gagal, bisa jadi aku malah ndak akan seberuntung ini :)

Kamis, 07 April 2016

Nulis Opini Cuma Butuh Cuma

[Dialog yang beberapa kali terjadi]

X: "Mal, kamu kalo nulis di koran gitu dapet fee berapa?"
Y: *menyebutkan range nominal angka*
X: "Wah, enak ya. Cuma nulis gitu doang dapetnya banyak."

[Dialog selesai]

Ehehe. "Cuma".

Tapi, kalo dipikir-pikir memang cuma sih. Dulu, pertama kali aku nulis Opini di Kompas, cuma karena lagi gelisah yang bertemu dengan kengangguran dan kebutuhan akan uang jajan tambahan. Iya, UANG. HAHAHAHAH. Jadi, buat yang mengira aku menulis karena kritis dan idealis, kalian keliru kawan, aku justru oportunis, materialis, dan melankolis #eaaa

Sabtu, 02 Mei 2015

Pendidikan Patut Usia*


Barangkali, legenda Roro Jonggrang tak perlu lagi diceritakan pada anak-anak. Agar generasi penerus bangsa ini tak menjadi Bandung Bondowoso-Bandung Bondowoso yang dengan pongahnya merasa mampu melakukan banyak hal secara instan. Sebab, idiom “Lebih Cepat, Lebih Baik” meski bermaksud positif, tak selalu aplikatif. Salah satunya, bila diterapkan pada anak-anak yang masih menempuh pendidikan dasar. Terburu-buru untuk cepat, kadang malah membuat anak tersesat. Menjadikan mereka mengecap hal-hal yang tak sinkron dengan usianya.

Kamis, 05 Februari 2015

(Kembali) Membaca: Pra-Reading Perempuan-Perempuan Mahabharata

A good writer is a good reader.

This just so true. Mungkin, alasan kenapa sekarang aku jarang menulis (terutama di blog ini), karena aku sendiri sekarang jarang membaca. Kadang rasanya sedih, remembering those old days, di mana aku super-excited membaca setiap buku. Bahkan, nggak jarang, satu buku bisa kukhatamkan berkali-kali. Sampek hafal setiap kata-katanya. But now? Satu buku aja belum tentu habis dilahap. Waktuku lebih banyak terbuang buat stalking di social media. Yes, what people said is true, social media is the perfect distraction to wasting your time. Duh, dasar generasi kekinian :'))

That's why, aku seneng banget, ketika salah satu temenku --sebut saja namanya Erny Kurnia, bikin proyek 1 Bulan 1 Buku. Yes, gadis "tutorial" yang kukenal lewat Pekom 2014 ini juga mengalami kegelisahan yang sama. Singkatnya, lewat proyek tersebut, Erny ngajakin kita "memaksa diri" dan menyediakan waktu untuk menghabisi (minimal) satu buku dalam sebulan. Dan sebagai bukti telah membaca sekaligus wadah penyebaran virus membaca ke orang-orang sekitar, setiap bulannya kita perlu nulis postingan pra dan pasca membaca. Iyap, supaya kita bisanya nggak sekadar posting foto cover buku doang di social media, terus ngutip salah satu quotes-nya yang kece di bagian caption, tapi kenyataannya baca juga baru sampek prolog #ups #bukannyindir ngahahah. Anyway, lebih detail lagi soal proyek ini, monggo cek langsung aja di blog doi: Erny's Journal.

Dan untuk bulan (yang distereotipkan) penuh cinta ini, aku memilih akan mencumbui buku ini:



Alkisah, buku ini diberikan oleh seorang teman spesial *uhuk* menjelang ultahku yang ke-20, setengah tahun lalu. Dulu, aku sempat sih baca halaman-halaman awal. Tapi, berhubung aku buta banget soal kisah Mahabharata, jadi semacam roaming yang kemudian bikin males baca mihihihi. Buku ini pun sempat tertinggal di kampung halaman selama satu semester dan baru kembali ke tanganku baru-baru ini. Well, aku rasa proyek ini bisa jadi motivasi untuk kembali membacanya, dan kali ini kudu sampek halaman terakhir! Motivasi lain membacanya juga supaya nggak ngecewain si doi tercinta~ #eak.

Selain motivasi-motivasi tersebut, yang menurutku menarik dari buku karya Kavita A. Sharma ini adalah buku ini FEMINIS bingits! Ngahahah. Seperti yang tertulis pada sinopsisnya di cover belakang:
Mahabharata dapat dilihat sebagai kisah tentang perempuan-perempuan tangguh yang berpengaruh dalam masyarakat patriarki. Mereka adalah perempuan yang cerdas, terampil, terpelajar, menguasai urusan kenegaraan, cantik, dan jika diperlukan bisa berbalik membangkang, licik, dan kejam.

Duh, kak. Kurang ngeri apa cobak sinopsisnya. Haha. Itu kriteria perempuan idaman banget buat aku yang ngakunya feminis ini. Ehm tepatnya sih, feminis oportunis alias sok-sokan emansipatoris kalo sikonnya lagi nguntungin buat diri sendiri aja #eh. Harapanku, dengan membaca buku ini, aku bisa mengembalikan semangat antri-patriarkiku yang dulu. Yang kata temen-temenku, sekarang aku kok jadi penurut sama laki-laki, they said, "Kamu berubah, Mal." *eaa, malah curhat kan hahahah*

Well, nggak perlu lagi berpanjang lebar. Mari segera membaca. Mari menghirup aroma kertas, membasahi telunjuk dengan air liur setiap kali sulit membalik halaman, dan melayangkan khalayan sebebas mungkin!


XOXO,

Amal.




Sabtu, 30 Agustus 2014

Juara Berkat Saba

Jumlah peserta jadi perhatian utama saya saat menghadiri Kompas Saba Kampus, Sabtu (14/6) lalu. Aula Gedung C FISIP Unair hampir terisi penuh, bahkan sebelum acara dimulai. Saya terkagum, sekaligus sedikit miris. Sebab, ini bukan kali pertama instansi media mengadakan workshop di Unair, terutama FISIP. Namun, sebelumnya, animo peserta tak pernah setinggi ini.

RAMAI, bahkan sebelum dimulai

Kerap kali, dosen-dosen Ilmu Komunikasi mewajibkan mahasiswa di beberapa mata kuliah tertentu untuk meramaikan acara. Hal serupa tak saya temukan di Kompas Saba Kampus. Hari itu, tak perlu ada ancaman “akan diabsen” untuk mendatangkan ratusan mahasiswa. Entahlah. Mungkin ini hanya soal pemilihan waktu pengadaan acara. Mungkin juga disebabkan publikasi Kompas yang lebih gencar dibanding media lainnya. Bisa jadi juga karena fasilitas yang dijanjikan lebih mumpuni dan tak ditarik biaya sama sekali. Atau memang, nama besar suatu instansi media mempengaruhi tingkat keinginan seseorang untuk menimba ilmu. Ha-ha. Hingga kini pun saya masih bertanya-tanya.

Bicara soal nama besar, tema yang diangkat Kompas adalah Pemilu dan Peran Media. Isu terseksi tahun ini. Di mana, media tentunya punya andil besar untuk membesarkan nama kandidat pada pesta demokrasi lima tahun sekali tersebut. Peran, yang bila dianalogikan, mampu memecah belah Indonesia sedemikian rupa, setelah terakhir kalinya terbagi dua saat harus memilih antara Joy atau Delon.

Menariknya, tema tersebut disampaikan bukan dari pihak redaksi. Melainkan oleh Bestian Nainggolan, Senior Researcher Kompas. Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan. Tentunya dengan perspektif berbeda dari workshop lain yang pernah saya ikuti. Tak hanya itu, Kompas juga menghadirkan Ricky Setiawan yang banyak bicara soal passion. Lagi-lagi ini isu seksi, khususnya bagi mahasiswa. Yang umumnya masih galau ingin melakukan apa selama kuliah dan setelah lulus ingin jadi apa.

Namun, sesi yang paling membekas bagi saya tetaplah sesi kelas Menulis Jurnalistik yang diisi oleh Wisnu Nugroho (Mas Inu). Di kelas ini, saya bukan diminta mendengarkan materi lalu praktik menulis berita. Mas Inu justru lebih banyak sharing pengalamannya menjadi wartawan istana negara. Meski hanya duduk diam dan mendengarkan, banyak pencerahan yang saya dapatkan. Ide-ide untuk tulisan baru pun bermunculan. Salah satunya yang kemudian saya tulis untuk kolom Mahasiswa Bicara di Kompas dan mampu menggondol juara pertama. Terima kasih banyak, Mas. Semoga saja lewat tulisan ini saya berkesempatan untuk kembali bertemu dengan Mas Inu dan mengucapkan terima kasih secara langsung :)

SEDIKIT dari banyak yang saya dapatkan di Kompas Saba Kampus

EFEK tidak langsung mengikuti kelas Menulis Jurnalistik





XOXO,




Amalia Nurul Muthmainnah






Senin, 02 Juni 2014

Please, Don't Take This Post Seriously :))

(maaf kalo pic ini malah mirip video klip lagu galau)

Etjieeeeh.
Halo.
I’m back from the dead.

Maaf yak udah lama (banget!) nggak nyentuh blog ini *sambil tersedu-sedu bersihin debu yang tebelnya udah lima kilometer*
Kemarin-kemarin, saya lagi fokus. Fokus nyari jodoh.

Oke. Long story short, postingan kali ini terinspirasi setelah saya nontonin Mata Najwa edisi Jokowi vs Prabowo dan ngubek-ngubek internet baca tulisan yang ngebahas soal dua manusia itu. Which is, isinya lucu-unyu-munyu-bingit sampai bikin saya “bangkit dari kematian dan kembali menulis blog ini” #tsah.

Tahun politik, menurut saya, membuat semua orang jadi lucu.
Semua orang, terutama para politikus, jadi mirip remaja galau. 

Rabu, 13 November 2013

dearest Mr. Iqbal...





selamat hari ayah.
dari aku yang selalu rindu dibangunkan untuk solat subuh olehmu.

I never saying this outloud, but I love my dad and I'll make him proud of me :))